Minggu, 11 Maret 2012

IAD


ILMU ALAMIAH DASAR

Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. IAD hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.

A.    MANUSIA YANG BERSIFAT UNIK
Ciri-ciri manusia
a.       Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya
b.      Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar)
c.       Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar
d.      Memiliki potensi untuk berkembang biak
e.       Tumbuh dan bergerak
f.       Berinteraksi dengan lingkungannnya
g.      Sampai pada saatnya mengalami kematiian

Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ilmu pengetahuan dan  teknologi manusia dapat hidup dengan lebih baik lagi. Akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat itulah sifat unik dari manusia.

B.     KURIOSITAS ATAU RASA INGIN TAHU DAN AKAL BUDI
Rasa ingin tahu makhluk lain lebih didasarkan oleh naluri (instinct) /idle curiosity naluri ini didasarkan pada upaya mempertahankan kelestaraian hidup dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia juga mempunyai naluri seperti tumbuhan dan hewan tetapi ia mempunyai akal budi yang terus berkembang serta rasa ingin tahu yang tidak terpuaskan.
Sesuatu masalah yang telah dapat dipecahkan maka akan timbul masalah lain yang menunggu pemecahannya, manusia setelah tahu apanya maka ingin tahu bagimana dan mengapa.
Contoh : tempat tinggal manusia purba sampai manusia modern, contoh lain seperti penyakit setelah ditemukan obat suatu penyakit ada penyakit lain lagi yang dicoba untuk dicari obatnya (HIV AIDS)

C.     PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA
Manusia yang mempunyai rasa ingin tahu terhadap rahasia alam mencoba menjawab dengan menggunakan pengamatan dan penggunaan pengalaman, tetapi sering upaya itu tidak terjawab secara memuaskan. Pada manusia kuno untuk memuaskan mereka menjawab sendiri. Misalnya kenapa ada pelangi mereka membuat jawaban, pelangi adalah selendang bidadari atau kenapa gunung meletus jawabannya karena yang berkuasa marah. Dari hal ini timbulnya pengetahuan tentang  bidadari dan sesuatu yang berkuasa. Pengetahuan baru itu muncul dari kombinasi antara pengalaman dan kepercayaan yang disebut mitos. Cerita-cerita mitos disebut legenda. Mitos dapat diterima karena keterbatasan penginderaan, penalaran, dan hasrat ingin tahu yang harus dipenuhi. Sehubungan dengan dengan kemajuan zaman, maka lahirlah ilmu pengetahuan dan metode ilmiah.

Puncak pemikiran mitos  adalah pada zaman Babilonia  yati kira-kira 700-600 SM. Orang Babilonia berpendapat  bahwa alam semesta  itu sebagai ruangan setengah bola dengan bumi yang datar sebagai lantainya dan langit dan bintang-bintang sebagai atapnya. Namun yang menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan  satu tahun yaitu satu kali matahari beredar ketempat semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos pengetahuan semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu)
Tokoh-tokoh Yunani dan lainnya yang memberikan sumbangan perubahan pemikiran pada waktu itu adalah :
a.       Anaximander, langit yang kita lihat adalah setengah saja, langit dan isinya beredar mengelilingi bumi ia juga mengajarkan membuat jam dengan tongkat.
b.      Anaximenes, (560-520) mengatakan unsur-unsur pembentukan semua benda adalah air, seperti pendapat Thales. Air merupakan salah satu bentuk benda bila merenggang menjadi api dan bila memadat menjadi tanah.
c.       Herakleitos, (560-470) pengkoreksi pendapat Anaximenes,  justru apilah yang menyebabkan transmutasi, tanpa ada api benda-benda akan seperti apa adanya.
d.      Pythagoras (500 SM) mengatakan unsur semua benda adalah empat : yaitu tanah, api, udara dan air. Ia juga mengungkapkan dalil Pythagoras  C2 = A2 + B2, sehubungan dengan alam semesta ia mengatakan bahwa bumi adalah bulat dan seolah-olah benda lain mengitari bumi termasuk matahari.
e.       Demokritos (460-370) bila benda dibagi terus, maka pada suatu saat akan sampai pada bagian terkecil  yang disebut  Atomos atau atom, istilah atom tetap dipakai sampai saat ini namun ada perubahan konsep.
f.       Empedokles (480-430 SM) menyempurnakan pendapat Pythagoras, ia memperkenalkan tentang tenaga penyekat atau daya tarik-menarik dan data tolak-menolak. Kedua tenaga ini dapat mempersatukan atau memisahkan unsur-unsur.
g.      Plato (427-345) yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang sebelumnya, ia mengatakan bahwa keanekaragaman yang tampak ini sebenarnya hanya suatu duplikat saja dari semua yang kekal dan immatrial. Seperti serangga yang beranekaragam itu merupakan duplikat  yang tidak sempurna, yang benar adalah idea serangga.
h.      Aristoteles merupakan ahli pikir, ia membuat intisari dari ajaran orang sebelumnya ia membuang ajaran yang tidak masuk akal dan memasukkan pendapatnya sendiri. Ia mengajarkan unsur dasar alam yang disebut Hule. Zat ini tergantung kondisi sehingga dapat berwujud tanah, air, udara atau api. Terjadi transmutasi disebabkan oleh kondisi, dingin, lembah, panas dan kering. Dalam kondisi lembab hule akan berwujud sebagai api, sedang dalam kondisi kering ia berwujud tanah. Ia juga mengajarkan bahwa tidak ada ruang yang hampa, jika ruang itu tidak terisi suatu benda maka ruang itu diisi oleh ether. Aristoteles juga mengajarkan tentang klasifikasi hewan yang ada dimuka bumi ini.
i.        Ptolomeus (127-151) SM, mengatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya (geosentris), berbentuk bulat  diam seimbang tanpa tiang penyangga.
j.        Avicenna (ibn-Shina abad 11), merupakan ahli dibidang kedokteran, selain itu ahli lain dari dunia Islam yaitu Al-Biruni  seorang ahli ilmu pengetahuan asli dan komtemporer. Pada abab 9-11 ilmu pengetahuan dan filasafat Yunani banyak yang diterjemahkan dan dikembangkan dalam bahasa Arab. Kebudayaan Arab berkembang menjadi kebudayaan Internasional.


D.    LAHIRNYA ILMU ALAMIAH
Panca indera akan memberikan tanggapan terhadap semua rangsangan dimana tanggapan itu menjadi suatu pengalaman. Pengalaman yang diperoleh terakumulasi oleh karena adanya kuriositas manusia. Pengalaman merupakan salah satu terbentuknya pengetahuan, yakni kumpulan fakta-fakta. Pengalaman akan bertambah terus seiring berkembangnya manusia dan mewariskan kepada generasi-generasi  berikutnya. Pertambahan pengetahuan  didorong oleh pertama untuk memuaskan diri, yang bersifat non praktis atau teoritis guna memenuhi kuriositas dan memahami hakekat alam dan isinya kedua, dorongan praktis yang memanfaatkan pengetahuan itu untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih tinggi. Dorongan pertama melahirkan Ilmu Pengetahuan Murni (Pure Science) sedang dorongan kedua menuju Ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science)

E.     KRETERIA ILMIAH
Pengetahuan masuk kategori Ilmu Pengetahuan, bila kriteria berikut dipenuhi yakni : teratur, sistemastis, berobyek, bermetoda dan berlaku secara universal.
Contoh: 1. logam yang dipanasi memuai, dimana saja tempatnya sama
  2. Grafitasi Bumi.

F.      METODE ILMIAH DAN IMPLEMENTASINYA
Segala kebenaran dalam ilmu Alamiah terletak pada metode ilmiah. Sebagai langkah pemecahan atau prosedur ilmiah dapat  sebagai berikut :
1.      Penginderaan, merupakan suatu aktivitas melihat, mendengar, merasakan, mengecap terhadap suatu objek tertentu.
2.      Masalah dan problema,  menemukan masalah dengan kata lain adalah  dengan mengemukakan pertanyaan apa dan bagaimana.
3.      Hipotesis, jawaban sementara terhadap pertanyaan yang kita ajukan.
4.      Eksperimen, dari sini ilmu alamiah dan non ilmu alamiah dapat dipisahkan. Contoh dalam gejala alam tentang serangga dengan lampu (sinar biru)
5.      Teori, bukti eksperimen merupakan langkah ilmiah berikutnya yaitu teori. Dengan hasil eksperimen dari beberapa peneliti dan bukti-bukti yang menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan valid walaupun dengan keterbatasan tertentu. Maka disusun teori. Dengan teori-teori yang dikemukakan maka dapat diaplikasikan terhadap kebutuhan manusia seperti pengusiran serangga atau perangkap nyamuk (terkait dengan teori pencahayaan

G.    KETERBATASAN ILMU ALAMIAH
Untuk itu perlu dilakukan pengujian sampai dimana berlakunya metode ilmiah dan dimana metode ilmiah tidak berlaku. Untuk itu kita perlu memperhatikan :
Pertama, Bidang ilmu Alamiah, yang menentukan bidang ilmu alamiah adalah metode ilmiah, karena bidang ilmu alamiah adalah wahana di mana metode ilmiah dapat diterapkan, sebaliknya bidang non ilmiah adalah wahana dimana metode ilmiah tidak dapat terapkan. Contoh hipotesa tentang keberadaan tuhan merupakan konsep yang tidak bisa menggunakan metode ilmiah dan apabila menggunakan konsep ini bisa menyebabkan orang Atheis.
Kedua, tujuan ilmu Alamiah, membentuk dan menggunakan teori. Ilmu alamiah hanya dapat mengemukakan bukti kebenaran sementara dengan kata lain untuk kebenaran sementara adalah "Teori". Karena tidak ada sesuatu yang mutlak tetapi terus mengalami perubahan (contoh teori tentang bumi ini bulat)
Ketiga. Ilmu alamiah dan nilai, ilmu alamiah tidak menentukan moral atau nilai suatu keputusan . Manusia pemakain ilmu alamiahlah yang menilai apakah hasil Ilmu Alamiah baik atau sebaliknya.  Contoh penemuan mesiu atau bom atom.

H.    FILSAFAT ILMU ALAMIAH
Yang menjadi objek Ilmu Alamiah adalah semua materi dalam alam semesta ini. Ilmu Alamiah. meneliti sumber alam yang mengaturnya. Pertanyaan tentang siapa yang mengatur alam ini merupakan pertanyaan filsafat. Untuk itu ada 3 pandangan tentang filsafat ilmu alamiah.
Vitalisme, merupakan suatu doktrin  yang menyatakan adanya  kekuatan diluar   alam.  Kekuatan itu melikiki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di Alam semesta ini. (misalnya Tuhan). pendapat ini ditantang oleh beberapa orang lain karena dalam ilmu alamiah dikatakan bahwa segala sesuatunya harus dapat dianalisis secaras eksperimen. Atau harus cocok dengan metode ilmiah.
Mekanisme, penyebab segala gerakan di alam semesta ini dikarenakan hukum alam (misalnya fisika atau kimia). Faham ini menganggap bahwa gejala pada mahluk hidup secara otomatis terjadi hanya berdasar peristiwa fisika –kimia belaka. Pandangan ini menyamakan gejala pada mahluk hidup dengan gejala benda tidak hidup sehingga perbedaan hikiki tidak ada. Dengan begitu dapat menghayutkan manusia ke pandangan materialisme yang selanjutnya kepada Atheisme.
Agnotisme, untuk menghindari pertentangan  vitalisme dan mekanisme maka aliran ini timbul, dimana aliran ini melepaskan atau tidak memperhatikan sisi dari sang pencipta. Mereka yang mengkuti aliran ini, hanya mempelajari gejala-gejala alam saja, aliran ini banyak dianut oleh ilmuwan Barat.
Filsafat Pancasila, paham yang menjembatani  dari 2 aliran yang menyatakan bahwa alam dan hukumnya terjadi karena ciptaan tuhan dan proses selanjutnya menurut filsafat mekanisme (hukum alam). Hukum alam adalah itu adalah sama dengan hukum Tuhan.Dapat dilihat dari kehidupan makhluk hidup dari awal sampai akhir.



I.       BAHASA ILMU ALAMIAH
adalah bahasa kesatuan yang utuh sebagai bentuk bahasa ilmu alamiah merupakan bahasa universal. Contoh : Air (Indonesia), Water(Inggris) bahasa ilmiahnya H2O

J.       KETERBATASAN INDERA MANUSIA
Berdasarkan penelitian terhadap indera, manusia mempunyai kisaran (range) batas yang sangat terbatas
Penglihatan, terutama terhadap cepat atau lambatnya benda bergerak (riak air atau kecepatan cahaya, atau penglihatan kita sewaktu naik kereta api yang disampingnya terdapat pohon.
Pendengaran, manusia mempunyai kemampuan pendengaran dengan kisaran frekuensinya range 30 - 30.000 Hertz
Pengecapan dan pembauan, manusia selain mempunyai kemampuan tersebut juga mempunyai keterbatasan pembauan dan pengecapan terhadap benda yang ada dialam.
Indra kulit, manusia mampu  membedakan antara panas dan dingin secara kasar, namun manusia mempunyai keterbatasan sehingga penginderaan sering menimbulkan salah kesan dan  informasi, seperti perpindahan seseorang dari ruang panas ke dingin dibanding dengan orang yang berada diruangan yang tidak begitu panas.

K.    PENINGKATAN DAYA PENGINDERAAN
Peningkatan daya indra dapat dilakukan sehingga diperoleh hasil yang tepat dapat dilakukan dengan :
1.      Latihan, contoh pengindraan tentang bau dan bunyi (kualitas minuman anggur, teh, alat musik)
2.      Peningkatan Kewaspadaan, tingkat kewaspadaan sangat dipengaruhi oleh minat yang  menyebabkan kesimpulan berbeda, dapat dilihat pendapat beberapa orang tentang satu etalase atau laporan dari kecelakaan dari beberapa orang.
3.       Kalibrasi Instrumen (peneraan adalah membandingkan instrumen dengan  standar yang ada.
4.      Pengecekan, merupakan hal yang baik untuk menghindari kekeliruan.
5.      Eksperimen, penginderaan dalam kondisi yang dikontrol dengan eksperimen kita mengetahui faktor-faktor apa saja yang sangat mempengaruhi terhadap suatu perubahan.
6.      Penginderaan yang meliputi analisis dan sentesis, pengamatan terhadap bagian-bagian atau pengamatan secara keseluruhan.
7.      Instrumen baru, bisa melakukan pengindraan baru. Seperti lie detector, Teleskop, satelit dll.
8.      Pengukuran, merupakan ketrampilan tersendiri contoh dalam pembuatan mesin atau arsitektur.

L.     PEMBAGIAN ILMU PENGETAHUAN
Berdasarkan beberapa argumentasi ilmu pengetahuan dibedakan atas :
a.       Ilmu Pengetahuan Sosial, yakni membahas hubungan antar manusia sebagai makhluk sosial, yang selanjutnya  dibagi atas :
1.      Psikologi, yang mepelajari proses mental dan tingkah laku
2.      Pendidikan, proses latihan yang terarah dan sistematis menuju ke suatu tujuan
3.      Antropologi, mempelajari asal usul dan perkembangan jasmani, sosial, kebudayaan dan tingkah laku sosial
4.      Etnologi, cabang dari studi antropologi yang dilihat dari aspek sistem sosio-ekonomi dan pewarisan kebudayaan terutama keaslian budaya
5.      Sejarah,  pencatatan peristiwa-persitiwa  yang telah terjadi pada suatu bangsa. Negara atau individu
6.      Ekonomi, yang berhubungan dengan produksi, tukar menukar barang produksi,  pengolahan dalam lingkup rumah tangga, negara atau perusahaan.
7.      Sosiologi, studi tentang tingkah laku sosial, terutama tentang asal usul organisasi, institusi, perkembangan masyarakat.


b.      Ilmu Pengetahuan Alam , yang membahas tentang alam semesta dengan semua isinya dan selanjutnya terbagi atas:
1.      Fisika, mempelajari benda tak hidup dari aspek wujud dengan perubahan yang bersifat sementara. Seperti : bunyi cahaya, gelombang magnet, teknik kelistrikan, teknik nuklir
2.      Kimia, mempelajari benda hidup dan tak hidup dari aspek sususan materi dan perubahan yang bersifat tetap. Kimia secara garis besar dibagi kimia organik (protein, lemak) dan kimia anorganik (NaCl), hasil dari ilmu ini dapat diciptakan seperti plastik, bahan peledak
3.      Biologi, yang mempelajari makhluk hidup dan gejala-gejalanya.
Ø  Botani, ilmu yang mempelajari tentang tumbuh-tumbuhan
Ø  Zoologi ilmu yang mempelajrai tentang hewan
Ø  Morfologi ilmu yang mempelajari tentang struktur luar makhluk hidup
Ø  Anatomi suatu studi tentang struktur dalam  atau bentuk dalam mahkhluk hidup
Ø  Fisiologi studi tentang fungsi atau faal/organ bagian tubuh  makhluk hidup
Ø  Sitologi ilmu yang mempelajari tentang sel secara mendalam
Ø  Histologi studi tentang jaringan tubuh atau organ makhluk hidup yang merupakan serentetan sel sejenis
Ø  Palaentologi studi tentang makhluk hidup masa lalu
c.       Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa
Studi tentang bumi sebagai salah satu anggota tatasurya, dan ruang angkasa dengan benda angkasa lainnya.
1.      Geologi, yang membahas tentang struktur bumi. (yang bahasannya meliputi dari ilmu kimia dan fisika) contoh dari ilmu ini  petrologi (batu-batuan), vukanologi (gempa bumi), mineralogi (bahan-bahan mineral)
2.      Astronomi, membahas benda-benda ruang angkasa dalam alam semesta yang meliputi bintang, planet, satelit da lain-lainnya. Manfaatnya dapat digunakan dalam navigasi, kalendar dan waktu.

contoh tgas IAD

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan ini pada dasarnya saling bergantung dan berpengaruh antara yang satu dengan yang lain, seperti manusia yang bergantung dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari begitu juga alam yang bergantung dengan manusia untuk menjaga dan melestarikan kehidupan alam, maupun antara manusia yang satu dengan yang lain yang juga memiliki hubungan timbale balik diantara keduanya dan ini berlaku juga untuk tumbuhan dan hewan, inilah makna dari ekosistem itu sendiri jika dikaitkan dengan ilmu social khususnya ilmu sosiologi. Dari hubungan ini, yang terjalin terus-menerus dan tak akan pernah putus sampai kapanpun, tanpa kita sadari akan membentuk ekosistem-ekosistem yang tidak terbatas pada ekosistem alami yang memang murni tercipta dari alam namun akan membentuk pula ekosistem buatan seperti ekosistem pemukiman kota dan desa yang memiliki ketimpangan dianatara keduanya, memiliki dampak yang berbeda-beda dalam kehidupan seperti kehidupan dengan social dan budaya yang baragam maupun penyakit yang ditimbulkan hingga perbedaan dengan begitu jelas terlihat dan dapat di analis dengan ilmu sosiologi. Dari menganalisis perbedaan-perbedaan ini, akan kita pahami dengan baik bahwa perkotaan tidak selamanya membawa dampak baik dan positif untuk manusia karena perbandingan antara luas lahan pemukiman dengan jumlah penduduk yang tidak sebanding. Sedangkan di pedesaan memiliki dampak baik yang tidak kita sadari karena terlalu berambisi dan berparadigma yang salah seperti fikiran bahwa hidup di kota pasti membawa kesuksesan tanpa dibekali ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang bisa bersaing dengan penduduk kota yang sudah memiliki tekhnologi lebih canggih, ilmu yang lebih maju dan kehidupan yang lebih terbuka padahal di desa yang dimana luas lahannya yang kekurangan sumber daya manusia untuk mengelola dan memajukan kehidupan desa.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka rumusan masalah yang dibahas adalah :
1.      Hal apa yang menyebabkan terbentuknya sebuah ekosistem?
2.      Bagaimana gambaran kehidupan ekosistem pemukiman kota?
3.      Bagaimana penyakit dapat berkembangbiak di kehidupan kota yang sudah maju?
4.      Mengapa  terjadi perbedaan yang timpang antara ekosistem kehidupan kota dengan ekosistem kehidupan desa?
5.      Seberapa timpang perbedaan diantara keduanya tersebut?
6.      Bagaimana penyelesaian dari ketimpangan yang muncul.
C. Tujuan Penilitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam program ini adalah:
1.      Mengetahui penyebab terbentuknya sebuah ekosistem.
2.      Mengetahui gambaran kehidupan ekosistem pemukiman kota.
3.      Mengetahui penyakit dapat berkembangbiak di kehidupan kota yang sudah maju.
4.      Mengetahui perbedaan yang timpang antara ekosistem kehidupan kota dengan ekosistem kehidupan desa.
5.      Mengetahui seberapa timpang perbedaan diantara keduanya.
6.      Mengetahui solusi penyelesaian dari ketimpangan yang muncul.

D. Manfaat Penelitian
1.      Melalui program ini pembaca dapat memahami ekosistem dari sudut pandang ilmu social khususnya sosiologi.
2.      Meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia baik di ekosistem pemukiman desa maupun kota dengan menambah wawasan mereka
BAB II
LANDASAN TEORI
E. GAMBARAN EKOSISTEM SECARA UMUM
Ekosistem adalah suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik yang tidak bisa dipisahkan antara lingkungan dengan makhluk hidup (organisme) dengan kata lain ekosistem adalah suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi antara satu dengan yang lainnya
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu system dimana organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut, inilah yang disebut dengan hukum toleransi.Misalnya seperti panda memiliki toleransi yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap makanannya, yaitu bambu dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai sumber makanannnya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia seperti kita dapat memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir, mengembangkan tekhnologi yang tidak dianugerahkan untuk ciptaan Tuhan lainnya.
Bicara ekosistem, maka kita tahu bahwa ekosistem terbagi menjadi dua yakni, ekosistem alami dan ekosistem buatan. Yang membedakan keduanya adalah dari proses pembentukannya. ekosistem alami dibagi lagi menjadi dua yaitu Abiotik dan Biotik. komponen tak hidup atau Abiotik adalah komponen fisik dan kimia tempat berlangsungnya kehidupan. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
  1. Suhu. Proses biologi dipengaruhi suhu seperti mamalia dan unggas yang membutuhkan suhu untuk meregulasi temperature dalam tubuhnya.
  2. Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
  3. Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme. Beberapa organism harus beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam tinggi.
  4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis.
  5. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
  6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Iklim dibagi lagi menjadi dua yakni Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
Biotik adalah istilah yang digunakan untuk menyebut sesuatu yang hidup (organisme). Komponen biotik adalah komponen yang menyusun suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi:
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organism lain sebagai makanannya. Disebut juga konsumen makro atau fatograf karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba. Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Dari hubungan yang saling bergantungan dan timbale balik inilah terjadi ketergantungan yang membentuk suatu rantai makanan yaitu perpindahan materi dan energi melalui proses makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Ketergantungan pada ekosistem dapat terjadi antar komponen biotik atau antara komponen biotik dan abiotik.
Ekosistem buatan adalah ekosistem yang diciptakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Ekosistem buatan mendapatkan subsidi energi dari luar, tanaman atau hewan peliharaan didominasi pengaruh manusia, dan memiliki keanekaragaman rendah.[1] Contoh ekosistem buatan adalah:
Ekosistem kota memiliki metabolisme tinggi sehingga butuh energi yang banyak. Kebutuhan materi juga tinggi dan tergantung dari luar, serta memiliki pengeluaran yang eksesif seperti polusi dan panas. Apa yang menyebabkan ini semua? Kita akan membahasnya dalam bab ekosistem pemukiman kota.
F. EKOSISTEM PEMUKIMAN KOTA
Ekosistem permukiman dalam hal ini adalah sebuah ekosistem kota. Ekosistem kota adalah  lingkungan buatan yang seutuhnya diciptakan oleh manusia termasuk hubungan sosial budayanya yang diciptakan untuk mereka sendiri. Ekosistem kota merepresentasikan ekpresi tertinggi dari perkembangan teknologi dan evolusi budaya manusia yang sudah lebih maju daripada sebelumnya. Komponen yang mudah dikenali sebagai ciri bagian dari ekosistem kota adalah bangunan gedung, komplek perumahan dan jaringan sarana transportasi. Juga termasuk di dalamnya sejumlah jenis tanaman dan binatang yang ditempatkan pada tempat hidup yang spesifik. Karakteristik dasar dari ekosistem kota secara umum tidak berbeda dengan ekosistem agrikutur. Di kedua ekosistem tersebut terjadi interaksi antara komponen hayati dan non hayati, kedua-duanya memang dipengaruhi oleh manusia itu sendiri. Namun dominansi peran manusia pada ekosistem kota jauh lebih tinggi, karena manusia mengendalikan komponen utama dalam lingkungan kota, yang terdiri dari manusia itu sendiri, komponen non-manusia, dan struktur fisiknya.
Manusia mengharapkan penyusun ekosistem kota bekerja bersama-sama untuk mendukung kehidupannya dan meningkatkan kualitas hidupannya. Namun demikian, komponen-komponen itu dan interaksi antar mereka seringkali menimbulkan masalah dalam pandangan manusia (antrophosentris). Kita tilik dari sejarah perkembangan kota sejak awal.
G. SEJARAH PERKEMBANGAN KOTA
Sejarah pekembangan kota menunjukkan bahwa pada awal tahun 1800 masyarakat yang hidup di ekosistem perkotaan diperkirakan hanya 1,7% dari seluruh populasi dunia. Pada saat itu masyarakat hidup di pedesaan dengan lingkungan hidup agraris. Hadirnya masyarakat industri yang ditandai dengan revolusi Industri di Inggris dengan ditemukannya mesin pemintal pada akhir tahun 1800-an yang mengubah kehidupan dari bertani menjadi industry dan memulai kecenderungan terjadinya urbanisasi secara global karena banyak alasan yang sangat mendukung ketika itu. Pada tahun 1950 populasi masyarakat kota meningkat menjadi 28%, pada tahun 1985 mencapai 42%, dan pada tahun 2000-an akibat pertumbuhan pesat dari penduduk kota menyebabkan setengah penduduk dunia akan tinggal pada kota-kota besar maka tidak heran  jika pada saat ini disebut sebagai urban millineum (dikutip dari www.google.com)
Seperti halnya perkembangan kota-kota lainnya di dunia, perkembangan kota-kota di Indonesia pun mengalami percepatan pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Sebagai contoh misalnya Kota Jakarta sebagai Ibu Kota Negara, diduga akan mengalami pertambahan ganda (doubling-time) dari apa yang terjadi pada saat ini. Jumlah penduduk kota ini akan meningkat dari 9.842.800 jiwa menjadi 19.773.875 jiwa sehingga kepadatan penduduk akan meningkat dari 14.851 jiwa/km2 menjadi 29.870 jiwa/km2. Di samping itu perkembangan megapolitan Jakarta dengan wilayah sekitarnya telah menyatu membentuk kawasan megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Kawasan ini juga pada akhirnya mengalami pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi, dari 16 juta jiwa pada tahun 1990, meningkat menjadi 19 juta jiwa pada tahun 1996 dan diperkirakan pada tahun 2020-an akan mencapai 30,2 juta jiwa. Demikian halnya dengan apa yang terjadi pada perkembangan kota-kota lain di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Perkembangan metropolis Surabaya telah menyebabkan meningkatnya urbanisasi sehingga jumlah penduduk Kota Surabaya juga diduga akan mengalami peningkatan dari 2.599.796 jiwa pada tahun 2005 menjadi hampir 4 juta jiwa pada tahun 2010. Peningkatan laju pertumbuhan kota Surabaya diikuti oleh perkembangan kota-kota seperti Sidoarjo, Gresik, dan Pasuruan.
Peningkatan jumlah penduduk di ekosistem perkotaan dimbangi dengan pertumbuhan ekonomi kawasan dan aset pembangunan seperti infrastruktur kota, jaringan jalan, gedung-gedung perkantoran, apartemen, dan lain-lain. Namun demikian terjadi pula peningkatan perubahan bentang alam, konversi lahan, peningkatan ketidakteraturan, berkurangnya kebersihan dan meningkatnya volume sampah serta pencemaran udara serta air. Di samping itu, muncul permasalahan yang berkaitan dengan hadirnya organisme-organisme vektor penyakit (hama permukiman). Kehadiran organisme vektor penyakit ini merupakan bagian dari masalah yang muncul pada ekosistem kota .
Berbagai vektor penyakit yang sebagian besar dari kelompok serangga mampu beradaptasi pada lingkungan yang khas dan kondisi yang diciptakan oleh manusia dan menjadi toleran terhadap kondisi suhu serta kelembaban tertentu yang merupakan karakteristik lingkungan hidup manusia.
H. EKOSISTEM KOTA DAN BERBGAI PENYAKIT YANG BERKEMBANGBIAK
Bagian terbesar dari organisme yang berperan sebagai vektor penyakit adalah kelompok serangga (antropoda). Tidak mengherankan karena serangga dapat kita jumpai dimana saja dan merupakan kelompok terbesar dari kingdom animalia (dunia binatang). Keragamannya yang sangat besar menunjukkan kemampuan dari kelompok binatang ini untuk bertahan hidup termasuk pada lingkungan yang diciptakan oleh manusia. Terdapat beberapa alasan mengapa serangga mampu hidup sukses dalam ekosistem perkotaan. Seperti banyak serangga yang mudah dilihat karena ukuran yang besar namun sangat sukar mencari kutu busuk karena ukurannya yang kecil bahkan banyak pula serangga lain yang ukurannya jauh lebih kecil sehingga sangat sukar dilihat dengan mata telanjang. Sebagai contoh ratusan individu lalat dapat berkembang hanya pada kotoran kecil hewan berukuran besar. Ribuan kecoa dapat ditemukan pada retakan dan lubang-lubang kecil di dapur, sepanjang ada makanan dan air tersedia bagi populasinya. Nyamuk bahkan mampu bertelur, jentiknya hidup hanya pada tutup-tutup botol, kaleng bekas, atau pelepah daun palmae dimana terdapat genangan air yang sangat sedikit. Kemampuan mengekloitasi habitat inilah yang menyebabkan serangga dapat dijumpai dimana-mana di sekitar kita terutama di pemukiman perkotaan yang mendukung sekali berkembangbiaknya serangga-serangga itu. Selain itu serangga walaupun berukuran kecil tetapi kelimpahan atau jumlahnya banyak dalam sekali bereproduksi dan mampu mencapai usia dewasa dengan cepat untuk bereproduksi kembali contohnya Kecoa Amerika (Periplaneta americana) dan keturunannya mampu menghasilkan 800 ekor kecoa dalam setahun. Kedua faktor ini (jumlah dan reproduksi) mengantarkannya menuju kemampuan penyesuaian diri (adaptasi) dengan lingkungannya.
Kemampuan beradaptasi karena adanya variasi genetik dan siklus hidupnya yang pendek merupakan alasan kemampuan hidup serangga dalam lingkungan hidup perkotaan. Serangga yang berukuran kecil dan memiliki luas permukaan yang besar sangat rentan mengalami penguapan, namun karena berpenutup tubuh yang unik maka ia mampu mengatasi masalah dan bertahan hidup. Serangga merupakan hewan pertama yang mengembangkan kemampuan untuk terbang dan kemampuan ini sangatlah berperan penting dalam kesuksesannya berkompetisi dengan manusia. Kemampuan terbang ini menjadi modal perjuangan serangga untuk berkompetisi dengan manusia dan lingkungannya. Serangga yang lainnya selain kecoa adalah nyamuk, lalat dan semut.
Disamping kelompok serangga, vektor penyakit yang sukses hidup pada ekosistem kota adalah tikus. Tikus sebagai hewan rodentia sukses dalam beradaptasi di berbagai lingkungan, baik lingkungan yang nyaman maupun di lingkungan paling ekstrim sekalipun, seperti di daerah kering, kotor dan tandus. Di ekosistem kota, tikus hidup dan bersarang di saluran/sistem drainase, di rumah-rumah, di gudang-gudang tempat penyimpanan bahan pangan, di gedung-gedung perkantoran, di daerah perdagangan, atau di hotel-hotel dan bangunan gedung lainnya.
I. PERBEDAAN EKOSISTEM KEHIDUPAN KOTA DENGAN DESA DITILIK DARI KACAMATA SOSIOLOGI
Ada beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk membedakan antara desa dan kota. Ciri-ciri tersebut antara lain :
1) jumlah dan kepadatan penduduk
2) lingkungan hidup;
3) mata pencaharian;
4) corak kehidupan sosial;
5) stratifikasi sosial;
6) mobilitas .sosial;
7) pola interaksi sosial;
8) solidaritas sosial; dan
9) kedudukan dalam hierarki sistem administrasi nasional.
Meskipun tidak ada ukuran pasti, kota memiliki penduduk yanag jumlahnya lebih banyak dibandingkan desa. Hal ini mempunyai kaitan erat dengan kepadatan penduduk, yaitu jumlah penduduk yang tinggal pada suatu luas wilayah tertentu, misalnya saja jumlah per KM ” (kilometer persegi) atau jumlah per hektar. Kepadatan penduduk ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap pola pembangunan perumahan. Di desa jumlah penduduk sedikit, tanah untuk keperluan perumahan cenderung ke arah horisontal, jarang ada bangunan rumah bertingkat. Jadi karena pelebaran samping tidak memungkinkan maka untuk memenuhi bertambahnya kebutuhan perumahan, pengembangannya mengarah ke atas.
Lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh berbeda dengan di perkotaan. Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam bebas. Udaranya bersih, sinar matahari cukup, tanahnya segar diselimuti berbagai jenis tumbuh¬tumbuhan dan berbagai satwa yang terdapat di sela-sela pepohonan, di permukaan tanah, di rongga-rongga bawah tanah ataupun berterbangan di udara bebas. Air yang menetes, merembes atau memancar dari sumber¬sumbernya dan kemudian mengalir melalui anak-anak sungai mengairi petak¬petak persawahan. Semua ini sangat berlainan dengan lingkungan perkotaan yang sebagian besar dilapisi beton dan aspal. Bangunan-bangunan menjulang tinggi saling berdesak-desakan dan kadang-kadang berdampingan dan berhimpitan dengan gubug-gubug liar dan pemukiman yang padat.
Udara yang seringkali terasa pengap, karena tercemar asap buangan cerobong pabrik dan kendaraan bermotor. Hiruk-pikuk, lalu lalang kendaraan ataupun manusia di sela-sela kebisingan yang berasal dariberbagai sumber bunyi yang seolah-olah saling berebut keras satu sama lain. Kota sudah terlalu banyak mengalami sentuhan teknologi, sehingga penduduk kota yang merindukan alam kadang-kadang memasukkan sebagian alam ke dalam rumahnya, baik yang berupa tumbuh-tumbuhan, bahkan mungkin hanya gambarnya saja.
Perbedaan paling menonjol adalah pada mata pencaharian. Kegiatan utama penduduk desa berada di sektor ekonomi primer yaitu bidang agraris. Kehidupan ekonomi terutama tergantung pada usaha pengelolaan tanah untuk keperluan pertanian, peternakan dan termasuk juga perikanan darat. Sedangkan kota merupakan pusat kegiatan sektor ekonomi sekunder yang meliputi bidang industri, di samping sektor ekonomi tertier yaitu bidang pelayanan jasa. Jadi kegiatan di desa adalah mengolahalam untuk memperoleh bahan-bahan mentah, baik bahan kebutuhan pangan, sandang maupun lain-lain bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia. Sedangkan kota mengolah bahan-bahan mentah yang berasal dari desa menjadi bahan-bahan asetengah jadi atau mengolahnya sehingga berwujud bahan jadi yang dapat segera dikonsumsikan. Dalam hal distribusi hasil produksi ini pun terdapat perbedaan antara desa dan kota. Di desa jumlah ataupun jenis barang yang tersedia di pasaran sangat terbatas. Di kota tersedia berbagai macam barang yang jumlahnya pun melimpah. Bahkan tempat penjualannya pun beraneka ragam. Ada barang-barang yang dijajakan di kaki-lima, dijual di pasar biasa di mana pembeli dapat tawar-menawar dengan penjual atau dijual di supermarket dalam suasana yang nyaman dan harga yang pasti. Bidang produksi dan jalur distribusi di perkotaan lebih kompleks bila dibandingkan dengan yang terdapat di pedesaan, hal ini memerlukan tingkat teknologi yang lebih canggih. Dengan demikian memerlukan tenaga-tenaga yang memilki keahlian khusus untuk melayani kegiatana produksi ataupun memperlancar arus distribusinya.
Corak kehidupan sosial di desa dapat dikatakan masih homogen. Sebaliknya di kota sangat heterogen, karena di sana saling bertemu berbagai suku bangsa, agama, kelompok dan masing-masing memiliki kepentingan yang berlainan.
Beranekaragamnya corak kegiatan di bidang ekonomi berakibat bahwa sistem pelapisan sosial (stratifikasi sosial) kota jauh lebih kompleks daripada di desa. Misalnya saja mereka yang memiliki keahlian khusus dan bidang kerjanya lebih banyak memerlukan pemikiran memiliki kedudukan lebih tinggi dan upah lebih besar daripada mereka yang dalam sistem kerja hanya mampu menggunakan tenaga kasarnya saja. Hal ini akan membawa akibat bahwa perbedaan antara pihak kaya dan miskin semakin menyolok.
Mobilitas sosial di kota jauh lebih besar daripada di desa. Di kota, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk mengalami mobilitas sosial, baik vertikal yaitu perpindahan kedudukan yang lebih tinggi atau lebih rendah, maupun horisontal yaitu perpindahan ke pekerjaan lain yang setingkat.
Pola-pola interaksi sosial pada suatu masyarakat ditentukan oleh struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan struktur sosial sangat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga sosial (social institutions) yang ada pada masyarakat tersebut. Karena struktur sosial dan lembaga-lembaga sosial yang ada di pedesaan sangat berbeda dengan di perkotaan, maka pola interaksi sosial pada kedua masyarakat tersebut juga tidak sama. Pada masyarakat pedesaan, yang sangat berperan dalam interaksi dan hubungan sosial adalah motif-motif sosial.
Dalam interaksi sosial selalu diusahakan agar supaya kesatuan sosial (social unity) tidak terganggu, konflik atau pertentangan sosial sedapat mungkin dihindarkan jangan sampai terjadi. Bahkan kalau terjadi konflik, diusahakan supaya konflik tersebut tidak terbuka di hadapan umum. Bila terjadi pertentangan, diusahakan untuk dirukunkan, karena memang prinsip kerukunan inilah yang menjiwai hubungan sosial pada masyarakat pedesaan, karena masyarakat ini sangat mendambakan tercapainya keserasian (harmoni) dalam kehidupan berinteraksi lebih dipengaruhi oleh motif ekonomi daripada motif-motif sosial. Di samping motif ekonomi, maka motif-motif nasional lainnya misalnya saja politik, pendidikan, kadang-kadang juga dalam hierarki sistem administrasi nasional, maka kota memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada desa. Di negara kita misalnya, urut-urutan kedudukan tersebut adalah : ibukota negara, kota propinsi, kota kabupaten, kota kecamatan, dan seterusnya. Semakin tinggi kedudukan suatu kota dalam hierarki tersebut, kompleksitasnya semakin meningkat, dalam arti semakin banyak kegiatan yang berpusat di sana. Kompleksitas di bidang administrasi nasional atau kenegaraan ini biasanya sejajar dengan kompleksitas di bidang kemasyarakatan lainnya, misalnya saja bidang ekonomi atau politik. Jadi ibukota Negara di samping menjadi pusat kegatan pemerintahan, biasanya sekaligus menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik dan bidang-bidang kemasyarakatan lainnya. Belum ada angka yang pasti mengenai jumlah pengangguran penuh di Indonesia, tetapi jumlah setengah pengangguran semakin tahun semakin merisaukan.Untuk mengatasi ketimpangan masalah ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan seperti:
1.      membendung arus urbanisasi.
2.      mengalihkan pusat pembangunan pabrik (industri) ke pinggiran kota.
3.      memaksimalkan potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia untuk kemajuan desa.
4.      Transmigrasi untuk pemerataan penduduk dan mengurangi warga miskin yang hidup menganggur tidak memiliki pekerjaan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari kajian yang telah ditulis dengan uraian yang panjang dan padat, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya perbedaan antara masyarakat desa dan kota yang mendasar ialah:
Masyarakat desa:
~ Hubungan kekerabatan-nya masih erat
~ Orang akan percaya pada hal-hal gaib apabila sudah kehabisan akal
~ Bersifat agraris
Masyarakat kota:
~ Masyarakatnya individualistis
~ Kepercayaan tradisional sudah hilang
~ Bersifat industri
Dari perbedaan-perbedaan ini di tambah dengan perbedaan lainnya yang telah kami uraikan sebelumnya seperti pola pemukiman, pola interaksi social antar masyarakat, dan sebagainya menyebabkan ekosistem pemukiman yang berbeda pula tentunya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang membawa dampak baik dan dampak buruk untuk ekosistem pemukiman disekitarnya yang harus menjadikan kita belajar lebih bijak dari alam sekitar, jika tidak maka sesuai dengan hukum ekosistem yaitu intinya hubungan timbal balik maka akan berdampak yang sama seperti apa yang telah kita perbuat yang berakibat berkembangbiaknya penyakit, rusaknya ekosistem disekitar kita dan kerugian untuk diri kita sendiri tentunya. Jika kita bekerjasama membangun ekosistem pemukiman desa dan menjaga ekosistem ekosistem pemukiman kota, maka terciptalah Indonesia yang bersih, nyaman dan produktif.
DAFTAR PUSTAKA
www.google.com
www.wikipedia.com
www.google.com (dalam buku Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi)

konomi SDA/lingkungan


EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

by yohana

MODUL 1
PERANAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN
Kegiatan Belajar 1: Pengertian dan Peranan Sumber Daya Alam dalam Pembangunan Ekonomi
Rangkuman


Peranan ilmu ekonomi dalam kaitannya dengan sumber daya alam dan lingkungan yaitu mengenai pengambilan keputusan dalam penggunaan sumber daya alam yang langka.
Penggunaan sumber daya alam untuk masa mendatang merupakan imbangan antarpenduduk dan sumber daya alam.
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berada di bawah maupun di atas bumi dan belum dilibatkan dalam proses produksi.
Barang sumber daya alam adalah sumber daya alam yang sudah diambil dari bumi dan digunakan sebagai faktor produksi.
Pertumbuhan ekonomi yang cepat memerlukan barang sumber daya yang banyak namun dapat mengurangi sumber daya alam di bumi.
Teori ekonomi yang digunakan dalam pertumbuhan ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam adalah fungsi produksi.
Ada delapan isu penting yang berkaitan dengan sumber daya alam yaitu persediaan untuk kebutuhan manusia, lokasi persediaan, pergeseran ketersediaan sumber daya alam, kebijakan penggunaan, peranan sumber daya alam dan lingkungan, kualitas, kerusakan lingkungan dan mekanisme pasar.
Kegiatan Belajar 2: Peranan Ekonomi Lingkungan dalam Analisis Fungsi Lingkungan
Rangkuman

Ekonomika lingkungan merupakan studi tentang dampak yang tidak diinginkan dan studi tentang pilihan penggunaan sumber daya alam.
Peranan utama lingkungan adalah sebagai sumber bahan mentah, asimilator dan sumber kesenangan
Kegiatan Belajar 3: Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan
Rangkuman

Pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang berlangsung terus menerus namun tidak menyebabkan kesejahteraan generasi penerus menjadi menurun.
Pengertian tekanan ekologi adalah menurunnya kualitas sumber daya alam terhadap prospek ekonomi. Kondisi ini dapat diatasi hanya dengan merubah kebijakan ekonomi.
Syarat-syarat tercapainya pembangunan berkelanjutan dapat dilihat dari terpeliharanya lingkungan alami, masih besarnya peranan sumber daya alam sebagai sumber bahan mentah dan besarnya peranan lingkungan untuk menampung limbah dan mempunyai kemampuan untuk mengolah limbah secara alami.
Perlu adanya hak penguasaan yang jelas bagi swasta yang melindungi lingkungan.
Perlu adanya penyusunan neraca sumber daya alam untuk mengetahui cadangan sumber daya alam dan terjadinya degradasi lingkungan.
Perlu penetapan ekolabeling bagi produk yang dihasilkan oleh produsen untuk menjaga kualitas lingkungan.


MODUL 2
KLASIFIKASI SUMBER DAYA ALAM DAN UKURAN KELANGKAAN
Kegiatan Belajar 1: Klasifikasi Sumber Daya Alam
Rangkuman

Sumber daya alam secara fisik diklasifikasikan menjadi sumber daya alam pulih, tak pulih dan gabungan
Sumber daya yang menurun kuantitasnya dan tidak dapat diperbaharui dengan teknologi disebut daerah kritis
Berdasarkan pengelolaannya, pengelompokan sumber daya dibagi menjadi: pengelolaan oleh swasta untuk kelompok barang pribadi dan pengelolaan oleh pemerintah untuk barang publik
Pembedaan antara sumber daya alam pulih dan tak pulih dapat dilihat pula dari aspek penerimaan dan biaya pengelolaan
Pembedaan sumber daya alam dapat juga dilihat dari aspek primer dan sekunder
Dikaitkan dengan penggunaannya, sumber daya alam dapat dilihat dari sifat hubungannya yaitu : komplementer, substitusi dan netral
Kegiatan Belajar 2: Mengukur Kelangkaan Sumber Daya Alam
Rangkuman

Pengertian langka menurut ekonom adalah jumlah barang yang diminta lebih banyak dari yang tersedia
Persediaan sumber daya alam diartikan sebagai volume sumber daya alam yang sudah diketahui dan dapat diambil untuk mendatangkan keuntungan.
Para ekonom mengemukakan beberapa cara mengukur kelangkaan yaitu Fisher dengan menggunakan harga barang dan nilai sewa, Barnett anda Morse menggunakan satuan biaya produksi dan ada pula yang menggunakan royalti dan elastisitas substitusi.
Menurut Brown and Field penggunaan biaya produksi per satuan, harga barang dan nilai sewa ekonomis memiliki kelemahan


MODUL 3
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM
Kegiatan Belajar 1: Pengelolaan Sumber Daya Alam Tak Pulih
Rangkuman

Dalam pengambilan sumber daya alam tak pulih secara optimal ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu: harus memperhitungkan biaya alternatif dan biaya alternatif ini akan selalu meningkat sebesar tingkat bunga yang berlaku.
Variabel yang lebih diperhatikan dalam pengambilan sumber daya alam tak pulih adalah pola perubahan harga dan produksi daripada royalti.
Kenaikan harga barang sumber daya alam tak pulih jika tidak ada batasnya, maka akan menyebabkan timbulnya barang substitusi.
Jika harga meningkat sedang permintaan relatif stabil maka jumlah produksinya akan menurun.

Biaya pengambilan sumber daya alam merupakan fungsi terhadap jumlah maupun besarnya persediaan, sehingga hubungannya dapat positif, negatif atau netral.
Pada persaingan sempurna, seorang pengelola akan memaksimumkan keuntungan dari sumber daya yang dikelolanya.
Pada seorang pengelola monopolis juga akan memaksimumkan keuntungan dengan syarat yang harus dipenuhi adalah penerimaan marjinal harus sama dengan biaya marjinal ditambah dengan royalti.

Hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan sumber daya alam tak pulih adalah adanya unsur ketidakpastian, ketidakstabilan di pasar, efisiensi, hasil eksplorasi dan permasalahan dalam distribusi dan ketidakadilan.
Kegiatan Belajar 2: Pengelolaan Sumber Daya Alam Pulih
Rangkuman

Pengambilan sumber daya alam pulih secara optimal harus didasarkan pada konsep steady state.
Pengelolaan sumber daya alam pulih pada umumnya didasarkan pada konsep hasil maksimum yang mantap (Maximum Sustainable Yield).
Pengelolaan sumber daya alam pulih yang didasarkan pada kriteria manfaat biaya dan standar yang memaksimumkan nilai sekarang dari penerimaan bersih menggunakan konsep Optimal Sustainable Yield.
Pada sumber daya alam pulih terjadi titik balik (turning point) karena lingkungan alamiah memiliki daya dukung yaitu jumlah maksimum yang dapat ditampung oleh lingkungan alam.

Dengan adanya kepemilikan sumber daya alam secara umum maka akan terjadi kepunahan. Hal ini disebabkan setiap pelaku yang memanfaatkan sumber daya alam tersebut tidak memperhitungkan biaya alternatif yang merupakan nilai di masa mendatang dari sumber daya alam tersebut.

Beberapa cara mengatasi eksploitasi sumber daya alam pulih yang berlebihan adalah dengan:
mendefinisikan hak penguasaan atau hak milik sumber daya alam;
pembatasan peralatan yang digunakan untuk pengambilan;
pembatasan jumlah sumber daya alam yang diambil.
Pada sumber daya milik umum ada kemungkinan akan terjadi faktor kesesakan yaitu individu yang menggunakan fasilitas umum akan merasa saling terganggu. Dampak yang ditimbulkan adalah menurunnya kenikmatan para pengguna dan berkurangnya kesediaan untuk membayar.

Pada pengelolaan sumber daya milik umum biasanya akan terjadi kasus pencemaran, karena semua pengguna akan memanfaatkan untuk pembuangan limbah secara sembarangan.


MODUL 4
KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM
Kegiatan Belajar 1: Kegiatan yang Berkaitan dengan Pengembangan Sumber Daya Alam
Rangkuman

Ada beberapa pengertian konservasi, namun secara umum diartikan sebagai suatu tindakan untuk mencegah pengurasan sumber daya alam dengan cara pengambilan yang tidak berlebihan sehingga dalam jangka panjang masih tetap tersedia.
Cadangan sumber daya alam adalah sumber daya alam yang sudah diketahui dan bernilai ekonomis. Cadangan ini sudah diketahui jumlah atau besarnya deposit dalam satuan ukuran tertentu dan sudah diketahui manfaatnya.

Menurut David Ricardo manusia akan selalu menggunakan sumber daya alam yang paling tinggi kualitasnya kemudian baru beralih kekualitas yang rendah.
Kelompok Roma berpendapat, bahwa masyarakat hanya memikirkan kepentingannya sendiri dalam jangka pendek karena tingkat kesejahteraannya masih rendah.
Gerakan konservasi di Amerika Serikat adalah untuk mengembangkan sektor kehutanan secara ilmiah.

Kebijakan investasi dan di investasi dapat menghasilkan kegiatan konservasi atau deplisi.
Penggunaan yang lestari secara umum dapat diartikan sebagai suatu tindakan konservasi.

Standar minimum digunakan untuk pelaksanaan konservasi agar daerah yang sudah kritis tidak menjadi punah.
Kegiatan Belajar 2: Beberapa Variabel yang Mempengaruhi Konservasi Sumber Daya Alam
Rangkuman

Salah satu faktor yang paling konsisten mempengaruhi konservasi dan digunakan dalam perencanaan pengambilan sumber daya alam untuk membuat penerimaan bersih di masa mendatang adalah tingkat bunga.

Suatu kenaikan dalam tingkat bunga akan berarti adanya suatu penurunan yang progresif dalam nilai sekarang dari penerimaan bersih.
Dibandingkan sewa pajak mempunyai peranan yang lebih penting untuk konservasi sumber daya alam.

Hak penguasaan merupakan lembaga ekonomi yang utama dalam mempengaruhi keputusan untuk konservasi, karena akan menurunkan lebih lanjut lembaga-lembaga ekonomi yang lain seperti sistem persewaan, kredit dan perpajakan.
Hubungan antara pemilik dan penyewa atau pemakai sumber daya alam yang berupa penyerahan hak penguasaan dari pemilik kepada pemakai dikenal sebagai persewaan.
Hubungan penggunaan sumber daya alam baik untuk produk maupun hasil produksi sangat ditentukan oleh bentuk pasar.

Distribusi tingkat penggunaan sumber daya alam dapat bersifat komplementer, bersaing atau netral. Jika dikaitkan dengan bentuk pasar maka akan terlihat kebijakan yang akan dilaksanakan yaitu konservasi atau deplisi.

Jika hubungan ketergantungan dalam tingkat penggunaan adalah melalui penerimaan maka yang digunakan pada umumnya adalah sumber daya yang dapat diperbaharui.
Hubungan antara tingkat penggunaan sumber daya alam melalui penerimaan marjinal dan biaya marjinal tergantung dari macam masukan dan macam produk yang dipengaruhinya.


MODUL 5
PENERAPAN ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT PADA SUMBER DAYA ALAM
Kegiatan Belajar 1: Analisis Biaya dan Manfaat dalam Penggunaan Sumber Daya Alam
Rangkuman

Pada pengambilan sumber daya alam tambahan manfaat akan mengikuti konsep hukum tambahan manfaat yang semakin berkurang.
Manfaat dari tambahan kegiatan pengambilan sumber daya alam akan melebihi atau minimal sama dengan biaya alternatif.

Proyek yang layak dipilih adalah yang mempunyai B/C rasio lebih besar dari satu, artinya manfaat harus lebih besar dari pada biaya.
Konsep manfaat dan biaya dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu antara riil dan semu, langsung dan tidak langsung, primer dan sekunder, dan sebagainya.

Untuk mengetahui layak tidaknya suatu proyek maka kita harus mengenal dan dapat mengukur manfaat dan biaya suatu proyek
Dalam pelaksanaan suatu proyek aspek yang dianggap sulit adalah menentukan tingkat diskonto dan umur proyek.
Kegiatan Belajar 2: Analisis Manfaat dan Biaya Sosial Suatu Proyek
Rangkuman

Analisis Manfaat dan Biaya dirumuskan sebagai:
O = B/C ratio
l = investasi awal proyek; Bn = biaya, waktu
Mn = manfaat waktu i, r = bunga diskonto

Payback period adalah lama waktu yang diperlukan suatu badan usaha untuk memperoleh kembali investasi awalnya.

Average Rate of Return on Investment adalah alat untuk mengukur keuntungan proyek investasi yang diusulkan.

Net Present Value adalah nilai sekarang aliran kas ditambah nilai sekarang nilai akhir suatu proyek dikurangi investasi awal.

Internal Rate of Return adalah tingkat bunga yang menyamakan Net Present Value aliran kas keseluruhan dari proyek sama dengan nol.


MODUL 6
MENURUNNYA FUNGSI LINGKUNGAN
Kegiatan Belajar 1: Penyebab Menurunnya Fungsi Lingkungan
Rangkuman

Merosotnya fungsi lingkungan karena adanya beberapa ciri yang melekat pada lingkungan yaitu: a) sifat sebagai barang publik, b) sifat sebagai barang milik bersama dan c) adanya sifat eksternalitas.
Ada beberapa kebijakan yang perlu diambil pemerintah dalam kaitannya dengan fungsi lingkungan agar tetap lestari yaitu:
Memperbaiki hak penguasaan menjadi barang privat.
Memperbaiki manajemen sumber daya alam dan lingkungan.
Menerapkan sistem ekolabeling.
Melaksanakan audit lingkungan.
Memberikan insentif untuk pengelola lingkungan yang baik.
Kebijakan Adipura bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan dengan maksud membudayakan sikap hidup bersih dan sehat.
Dasar penilaian Adipura meliputi aspek: 1) organisasi dan kelembagaan, 2) kesehatan, dan 3) kondisi fisik kota.
Kegiatan Belajar 2: Sumber dan Macam-macam Pencemaran
Rangkuman

Secara umum limbah dapat dikelompokkan menjadi stock pollutants yaitu limbah yang sulit diserap oleh lingkungan dan fund pollutants, yaitu limbah yang mudah diserap oleh lingkungan.
Limbah dikelompokkan pula menurut luas dampak yang ditimbulkan yaitu bersifat lokal yang berarti kerusakan sebagai akibat pencemaran berada di sekitar sumber pencemaran, dan bersifat regional yang berarti kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih luas dari daerah sekitar.
Volume limbah yang efisien adalah alokasi yang dapat memaksimumkan nilai sekarang dari manfaat sosial bersih yang ditimbulkan.

Manfaat sosial bersih adalah manfaat yang diperoleh dari konsumsi suatu barang atau jasa tertentu dikurangi kerugian yang ditimbulkan adanya kerusakan.
Jenis biaya untuk penanggulangan pencemaran adalah biaya kerusakan akibat pencemaran dan biaya pengendalian atau pencegahan timbulnya pencemaran.

Sumber daya air dibedakan menjadi sumber daya air tanah yaitu sumber air bersih yang terdapat di dalam tanah dan batu-batuan, dan sumber daya air permukaan yaitu sumber air yang terdiri dari badan sungai, danau dan lautan.
Pencemaran pada air tanah terjadi jika bahan pencemar memasuki daerah titik jenuh. Sedang sumber pencemaran air permukaan adalah limbah yang sengaja di buang di badan air dan limbah yang tertinggal pada saat pengangkutan di badan air.
Sumber pencemaran air pemukaan dibedakan menjadi sumber tak bergerak dan sumber bergerak.

Biological oxygen demand (BOD) merupakan ukuran volume oksigen yang diperlukan oleh suatu badan air.

Bahan berbahaya dan beracun merupakan pencemar yang sulit di asimilasi oleh lingkungan, sehingga dikategorikan sebagai stock pollutants.
Baku mutu emisi udara ambien terdiri dari dua yaitu: pertama, baku mutu primer yang diartikan sebagai baku mutu yang harus dipatuhi oleh semua kegiatan, yang bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia. Sedang yang kedua, baku mutu sekunder bertujuan untuk melindungi kesejahteraan manusia dari pencemaran.


Pencemar udara dikelompokkan berdasarkan sifatnya dan terdiri dari partikel dan gas.
Pencemaran yang terjadi pada sumber daya tanah termasuk sangat tinggi, karena tanah atau bumi merupakan tempat kehidupan manusia dan banyak limbah padat yang dibuang ke dalamnya.


MODUL 7
EKONOMIKA KUALITAS LINGKUNGAN
Kegiatan Belajar 1: Ekonomika Pengendalian Pencemaran
Rangkuman

Model keseimbangan material menggambarkan interaksi antara perekonomian dan lingkungan.
Apabila kemampuan lingkungan dalam mengasimilasi lebih rendah dari volume limbah itu sendiri maka akan terjadi eksternalitas.
Kerusakan adalah semua dampak negatif yang dialami oleh pengguna lingkungan sebagai akibat dari menurunnya fungsi lingkungan.
Fungsi kerusakan menunjukkan hubungan antara volume limbah dan kerusakan yang disebabkan oleh limbah tersebut.

Ambang batas adalah keadaan yang menunjukkan tingkat konsentrasi tertinggi yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan.
Biaya penanggulangan pencemaran adalah biaya-biaya untuk mengurangi volume limbah yang dibuang ke dalam lingkungan.

Tingkat emisi yang efisien adalah tingkat emisi yang biaya kerusakan marjinalnya sama dengan biaya marjinal penanggulangan pencemaran.
Prinsip kesamaan marjinal digunakan untuk mencapai tingkat emisi yang efisien.
Kegiatan Belajar 2: Ekonomika Perlindungan Lingkungan
Rangkuman

Ada dua metode untuk melindungi lingkungan yaitu pendekatan pengaturan langsung dan pendekatan insentif ekonomi berdasarkan mekanisme pasar.
Prinsip pencemar harus membayar adalah dengan memasukkan biaya eksternal ke dalam biaya produksinya.

Pada prinsip pencemar harus membayar ada dua interpretasi yaitu interpretasi sempit dan interpretasi yang luas.
Tingkat pencemaran yang optimum adalah pada saat perpotongan antara kurva keuntungan bersih marjinal dan biaya eksternal marjinal.
Instrumen yang digunakan dalam pendekatan pengendalian pencemaran untuk memelihara lingkungan adalah dengan cara:

mengubah secara langsung tingkat harga atau biaya produksi;
mengubah secara tidak langsung harga dan biaya melalui kebijakan fiskal dan moneter;
menciptakan pasar bagi barang-barang lingkungan.
Keuntungan dari pendekatan dengan pajak atas pencemaran adalah produsen masih dapat menghasilkan produk yang dapat memberikan nilai manfaat bersih lebih rendah dari biaya eksternal yang ditanggung masyarakat. Selain itu dengan pajak atas pencemaran tidak terlalu banyak dihindari.

Pada kenyataannya penggunaan pajak lingkungan cukup sulit untuk dilaksanakan karena adanya ketidakpastian dalam biaya kerusakan lingkungan akibat pencemaran.
Tinggi rendahnya elastisitas permintaan terhadap produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan menentukan efektif tidaknya pungutan pencemaran.

Sistem perdagangan perizinan merupakan pendekatan pengendalian pencemaran lingkungan dan konservasi sumber daya alam dengan tujuan mengubah tingkah laku produsen dalam kegiatannya sehingga dapat bersahabat dengan lingkungan.


MODUL 8
NERACA SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN
Kegiatan Belajar 1: Kegunaan Neraca Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Rangkuman

Fungsi dari neraca pendapatan nasional adalah sebagai:
Sistem pengukuran perkembangan sosial ekonomi suatu negara.
Sistem informasi mengenai pengelolaan ekonomi dan pembuat kebijakan.
Suatu catatan mengenai bekerjanya sistem sosial ekonomi suatu negara.
Indikator di bidang ekonomi agar dapat dimengerti secara internasional.

Fungsi dari neraca sumber daya alam dan lingkungan adalah:
Untuk menilai proses dan hasil pembangunan secara objektif dan menyeluruh.
Menilai potensi pembangunan di masa mendatang
Memperjelas hak pemilikan sumber daya alam
Memperjelas kompensasi baik fisik maupun moneter
Mengelola sumber daya alam secara lebih efektif.

Permasalahan dalam neraca sumber daya alam dan lingkungan adalah:
Belum memasukkan nilai pengurangan sumber daya alam dan lingkungan.
Belum memperhatikan penurunan kualitas lingkungan
Tidak memasukkan unsur biaya penanggulangan pada Produk Nasional Bruto.
Permasalahan umum dalam penyusunan neraca sumber daya alam dan lingkungan adalah penyatuan pandangan berbagai pihak.

Permasalahan khusus pada penyusunan neraca sumber daya alam dan lingkungan adalah tidak tersedianya data yang menunjang.
Perlunya neraca sumber daya alam dan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan adalah untuk menjaga keseimbangan dan persediaan bagi generasi yang akan datang.
Strategi untuk menjamin tersedianya sumber daya alam dan lingkungan adalah:
Meneliti kondisi dan masalah sumber daya alam dan lingkungan.
Mengubah teori dan praktik pemberian nilai pada setiap barang.
Membuat studi dan aplikasi mengenai neraca sumber daya alam dan lingkungan.
Memperjelas hak pemilikan sumber daya alam
Memanfaatkan sumber daya alam secara rasional
Memperbaiki cara pengelolaan sumber daya alam.
Kegiatan Belajar 2: Konsep, Metode, dan Aplikasi Penghitungan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
Rangkuman

Degradasi lingkungan yang merupakan perubahan kualitas sumber daya alam dan lingkungan dapat dimasukkan sebagai biaya pembangunan.
Degradasi lingkungan yang berarti menurunnya kualitas lingkungan menyebabkan meningkatnya biaya produksi.

Menghitung penyusutan dapat dilakukan dengan melihat perubahan nilai harga barang modal atau melihat nilai sekarang dari jumlah sewa barang modal.
Neraca sumber daya alam menunjukkan pendapatan riil suatu negara, jumlah sumber daya alam yang akan digunakan generasi mendatang dan melihat kesejahteraan dan penderitaan masyarakat.

Masalah utama dalam penyusunan neraca sumber daya alam dan lingkungan adalah mengenai penyusunan teori nilai dan metode yang rasional guna menentukan nilai sumber daya alam dan lingkungan.
Beberapa metode yang digunakan dalam penghitungan sumber daya alam dan lingkungan adalah: a) pendekatan pendapatan, b) pendekatan kesejahteraan, c) penghitungan fisik dan d) penghitungan moneter.
Salah satu aplikasi dari metode penghitungan sumber daya alam dan lingkungan adalah untuk penyusunan nilai produk domestik regional hijau dan untuk menghitung nilai pendapatan regional hijau.


MODUL 9
VALUASI LINGKUNGAN
Kegiatan Belajar 1: Model Penentuan Nilai Lingkungan
Rangkuman

Pemberian nilai pada lingkungan dapat dibedakan dengan dua cara yaitu berdasarkan nilai atas dasar penggunaan dan nilai atas dasar yang terkandung di dalamnya.
Nilai atas dasar penggunaan dibedakan menjadi nilai atas dasar warisan generasi yang sebelumnya dan nilai karena keberadaannya.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan kegiatan.
Ada dua kelompok besar teknik penilaian dampak yaitu dari:
segi manfaat meliputi: 1) pendekatan nilai pasar; 2) pendekatan pasar pengganti; 3) pendekatan kompensasi; 4) pendekatan nilai survey.
segi biaya meliputi teknik analisis biaya
Kegiatan Belajar 2: Valuasi Ekonomi Degradasi Lingkungan di Sektor Kehutanan (Kasus Kabupaten Kutai Kartanegara)

Rangkuman
Dalam kajian sekarang ini belum diperhitungkan fungsi hutan yang tidak langsung seperti hutan sebagai sumber genetika, tempat rekreasi, fungsi ekologi dan keanekaragaman hayati, serta fungsi lingkungannya (environmental services). Demikian pula nilai ekonomi yang dihitung baru nilai ekonomi yang berkaitan dengan nilai penggunaan (use value) dan belum memperhitungkan nilai bukan penggunaan seperti nilai warisan, nilai keberadaan. Yang terakhir itu belum dilaksanakan karena memerlukan survei langsung dengan menggunakan pendekatan kesediaan membayar dan atau kesediaan menerima pembayaran; yang semuanya itu memerlukan biaya penelitian yang tinggi. Kalau nilai-nilai ini semua sudah dapat dihitung, maka nilai kerugian akibat kebakaran hutan, kerusakan hutan dan penebangan hutan akan menjadi jauh lebih besar lagi.

Analisis ini menunjukkan bahwa peranan hutan yang bersifat multi fungsi itu ternyata memiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karena itu, dalam memanfaatkan hutan sebagai sumber pembiayaan pembangunan dan sumber kehidupan manusia hendaknya dilakukan melalui pengelolaan hutan secara sangat bijaksana berhati-hati, karena banyak fungsi hutan yang sifatnya tidak dapat dikembalikan lagi apabila sudah rusak atau hilang (irreversible). Jadi tidak berarti bahwa hutan sama sekali tidak boleh diambil manfaat langsungnya seperti kayu hutan dan hasil hutan ikutan lainnya, tetapi pemanfaatan hutan tersebut dapat dilakukan melalui pengelolaan yang bijaksana sehingga menjamin kelangsungan fungsi sumber daya hutan dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Selain itu dapat pula disimpulkan bahwa:

Degradasi lingkungan di sektor kehutanan dapat mengakibatkan dampak langsung dan tidak langsung.
Degradasi lingkungan yang disebabkan oleh penebangan hutan, kerusakan hutan, dan kebakaran hutan akan menimbulkan dampak yang berbeda-beda.
Kebakaran hutan akan menimbulkan dampak antara lain:
peningkatan suhu udara;
timbul asp tebal;
kadar debu berlebihan;
menimbulkan berbagai dampak turunan;
mempengaruhi ekosistem;
mempengaruhi fotosintesis vegetasi hutan;
hilangnya beberapa unsur hara;
rusaknya vegetasi penutup;
pengurangan penyerapan CO2 dan sebagainya
Kerusakan hutan dan penebangan kayu akan menimbulkan beberapa kerugian di antaranya, pengurangan kesuburan tanah, hilangnya unsur hara, terjadinya erosi tanah, dan sebagainya.
Daftar Pustaka

NN. (1998). Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Jakarta: KLH dan UNDP.
M. Suparmoko, M. Ratnaningsih, M. Asta and Harlini Kahar. “Forest Resources” dalam Surna T. Djajadiningrat, M. Suparmoko, and M. Ratnaningsih, editors: (1993). Natural Resources Accounting for Sustainable Development, Ministry of State for Population and Environment, Environmental Management Development in Indonesia, Jakarta: Central Bureau of Statistics.
Porkas Sagala. (1994). Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
M. Suparmoko. (2002). Penilaian Ekonomi: Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Yogyakarta: BPFE.
M. Suparmoko. (1997). Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Yogyakarta: BPFE.
Sung Hoon Kim and John Dixon. (1986) “Economic Valuation of Environmental Quality Aspects of Upland Agricultural Projects in Korea”, dalam John A. Dixon and Maynard M. Hufschmidt, Economic Valuation Techniques for the Environment, Baltimore: The John Hopkins University Press